Kasus Pembunuhan Maryati
Sepekan Sebelumnya Mengaku Terima Ancaman

Wonosari,
Teka-teki masih menyelimuti kasus pembunuhan Maryati (18), yang mayatnya ditemukan di hutan Cangkring, Desa Karangasem, Kecamatan Paliyan, Kabupaten Gunungkidul, dengan leher dijerat tali plastik serta mulutnya disumbat dedaunan, Sabtu (28/10). Namun, dari cerita keluarganya, perempuan warga Dawung, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul itu diduga punya masalah yang rumit.

Diduga pula masalahnya cukup serius sehingga sampai berbuah ancaman. Sepekan sebelum terbunuh, korban sempat mengaku kepada keluarganya bahwa dirinya gelisah karena mendapat ancaman akan dibunuh.

Waktu itu pihak keluarga sebenarnya sudah berusaha mendesak kepada korban untuk menjelaskan siapa yang mengancam akan membunuhnya. Sayang, korban tetap tidak bersedia mengatakan. "Karena tidak mau terus-terang, pihak keluarga juga tidak mengusik lebih lanjut," kata salah satu keluarga korban.

Sebagaimana keterangan kakak korban, Nyonya Tukirah (40), sebelum peristiwa menyedihkan itu terjadi Kamis (26/10) korban datang ke rumahnya di Sriten, Jetis, Bantul, untuk mengantar keponakan korban yang masih duduk di bangku SD sehabis berlibur di rumah kakeknya di Gedangsari.

Setelah menginap semalam di Bantul, korban pulang diantar Pailah (18) menuju tempat mangkal angkutan umum yang menuju Wonosari. Tetapi, sesampainya di dekat terminal, korban dihampiri laki-laki mengendarai sepeda motor. Tidak diketahui secara pasti yang dibicarakan, namun yang jelas korban langsung membonceng sepeda motor itu.

Setelah kejadian itu tidak ada yang tahu, yang jelas Sabtu (28/10) korban sudah ditemukan tewas di tengah hutan Cangkring Kecamatan Paliyan. Berdasarkan pelacakan, terlihat masih ada bekas darah tercecer di sekitar tempat kejadian. Diduga korban dihabisi di hutan Cangkring.

Proses Cerai
Saat ditemukan, korban sebenarnya tengah menunggu proses cerai dengan suaminya, Budiyono (23), yang tinggal di Kalasan. Meskipun perkawinan baru sekitar setahun, keluarga ini sudah tidak harmonis hingga akhirnya mereka berniat cerai.

Selama menunggu proses cerai, korban masih tetap bekerja seperti biasanya, sebagai pembantu di salah warung makan di Yogyakarta. Tetapi, beberapa pekan terakhir ini, menurut sumber ini, korban nampak seperti orang bingung hingga pernah berniat untuk pergi dan pindah kerja. "Tetapi, sebelum niatnya terlaksana, korban sudah tewas," tambah sumber ini.

Sementara itu, Kapolres Superintendent Drs. Charles Maail ketika dihubungi secara terpisah belum bisa komentar banyak tentang hal ini. "Semuanya masih dalam pelacakan. Berbagai informasi yang ada, terus kami kembangkan," tegasnya. Tetapi, diakui dengan berbagai keterangan yang diperolehnya bisa menjadi bahan polisi untuk melangkah selanjutnya.

Kasat Serse Polres Gunungkidul Senior Inspektur Suranto Priyono yang memimpin pengungkapan kasus ini masih melakukan pengejaran beberapa orang yang selama ini dicurigai. "Untuk sementara, paling tidak sudah ada tiga orang yang dicurigai," tambah Kasat Serse tanpa memerinci orang yang dimaksud.(Bernas, 30 Oktober 2000)


"Pembunuhnya Juga Harus Mati"

Rasa duka jelas membayang di wajah Parno Yoso. Wajar saja. Betapa tidak, Maryati, putrinya yang ketiga dari empat bersaudara, ditemukan tews dengan kondisi mengenaskan Sabtu (28/10). Saat menunggui jenazah Maryati di rumahnya, di pinggir jalan utama Dusun Dawung, Desa Serut, Kecamatan Gedangsari, Gunungkidul, Minggu (29/10), Parno Yoso dan istrinya, Ny Paini, tidak dapat menyembunyikan rasa sedihnya. Tempat tinggal keluarga ini berjarak sekitar 50 km dari Wonosari. 

Dijelaskan Parno Yoso, anaknya yang bernama Maryati pendidikannya hanya sampai tamat sekolah dasar karena tidak mampu membiayai meneruskan sekolah dan langsung merantau ke Yogya. Saat ditemui di sudut di dalam rumah yang sempit berdindingkan anyaman bambu (gedek) dan berlantaikan tanah nampak peti dibalut kain putih yang berisi jenazah Maryati.

"Kulo mboten terimo anak kulo digawe loro terus dipateni kaya ngoten niku. Sing mateni uga kudu mati (Saya tidak terima anak saya dibuat sakit kemudian dibunuh seperti itu. Orang yang membunuh juga harus mati)," katanya saat ditanya harapannya jika pelaku pembunuhan tertangkap.

Terakhir kali Parno maupun Ny Paini bertemu Maryati pada Jumat (27/10). "Nanging dinten Kemis dalu Maryati sanjang kalih kulo, mbok, boyokku loro mbok aku pijetono. Terus ngomong aku arep balik kerja meneh neng ngomahe Pak Joko. Ning kulo jawab, mbok nek kesel kerjo istirahat dhisik nduk (Tapi, pada Kamis malam Maryati bicara pada saya, bu pinggangku pegal, mbok dipijitin. Tapi saya jawab, kalau memang lelah ya istirahat dulu)," ujar Paini.

Tidak ada firasat apapun ataupun mimpi dari pasangan yang sudah terhitung tua dan berprofesi sebagai petani itu. Juga saat paginya korban yang mempunyai kegemaran mendengarkan musik campur sari itu meninggalkan dusun tersebut mengantarkan keponakannya pulang ke Bantul.(Bernas, 30 Oktober 2000)